Sabtu 23 Aug 2014 08:54 WIB

Theosofi: Warisan Penjajahan (4)

Lambang Theosofi.
Foto: Flickr.com/sc
Lambang Theosofi.

Oleh: Susiyanto*

Serat Weddasatmaka sebagai contoh, mengakui eksistensi tujuh langit sebagaimana dalam konsepsi Islam (QS al-Baqarah: 29).

Hanya saja serat ini kemudian mendefinisikan ketujuh langit tersebut bukan langit dalam makna yang sesungguhnya (harfiah).

Langit ketujuh secara alegoris dimaknai sebagai alam yang ada dalam diri manusia dan wujud halusnya (roh). (Noname. Serat Weddasatmaka utawi Pepakeming Tiyang Agesang. Jilid III. (HA Benjamins, Semarang, 1905), hal. 50).

Buku Babad Theosofie mengakui bahwa kaum Theosofi telah melakukan sejumlah upaya untuk memengaruhi spiritualisme di dunia timur dimana salah satunya dengan memasukkan unsur-unsur ajaran Theosofi dalam kitab-kitab primbon.

Maka tidak mengherankan bila terdapat kitab-kitab primbon kebatinan di Jawa yang mengedepankan ajaran mistik dan klenik, ternyata kental pula dengan pandangan Theosofi.

Contoh primbon yang dimaksud masih dapat dijumpai misalnya dalam buku “Pustaka Radja Mantrayoga” yang dikarang oleh “Sang Harum djati”, yang dimungkinkan sebagai nama samaran.

Tapi, betapa pun, sikap sinis Theosofi terhadap agama sulit disembunyikan. Dengan jargon urgensi persaudaraan antarmanusia tanpa memandang agama, ras, jenis kelamin, dan perbedaan yang bersifat manusiawi lainnya, Theosofi memandang agama sebagai salah satu sumber konflik, bukan hanya konflik antar agama tetapi juga konflik antar umat seagama.

Perbedaan ajaran antaragama maupun perbedaan pendapat antar umat seagama seringkali diposisikan sebagai sumber konflik utama.

*Kandidat Doktor Pendidikan Islam Universitas Ibnu Khaldun-Bogor

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement